12 Oktober 2011

Biografi Cak To Pengemis Kaya di Surabaya

Kali ini cerita tentang seorang pengemis "sukses" yang berpenghasilan 9 juta rupiah/bulan. Namanya Cak To, beliau sekarang adalah bos pengemis di Surabaya dan tidak lagi hidup sebagai pengemis, melainkan cukup melatih, mentraining, dan melindungi pengemis-pengemis anak buahnya untuk mengemis dengan baik dan benar.

Biografi Cak To Pengemis Kaya di Surabaya

Cak To berasal dari keluarga pengemis, berkarir sebagai pengemis, dan sekarang jadi bos puluhan pengemis di Surabaya. Dari jalur minta-minta itu, dia sekarang punya dua sepeda motor, sebuah mobil gagah, dan empat rumah.

Cak To tak mau nama aslinya dipublikasikan. Dia juga tak mau wajahnya terlihat ketika difoto untuk harian ini. Tapi, Cak To mau bercerita cukup banyak tentang hidup dan ”karir”-nya. Dari anak pasangan pengemis yang ikut mengemis, hingga sekarang menjadi bos bagi sekitar 54 pengemis di Surabaya.

Setelah puluhan tahun mengemis, Cak To sekarang memang bisa lebih menikmati hidup. Sejak 2000, dia tak perlu lagi meminta-minta di jalanan atau perumahan. Cukup mengelola 54 anak buahnya, uang mengalir teratur ke kantong.

Sekarang, setiap hari, dia mengaku mendapatkan pemasukan bersih Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Berarti, dalam sebulan, dia punya pendapatan Rp 6 juta hingga Rp 9 juta.

Kekayaan Cak To

Cak To sekarang juga sudah punya rumah di kawasan Surabaya Barat, yang didirikan di atas tanah seluas 400 meter persegi. Di kampung halamannya di Madura, Cak To sudah membangun dua rumah lagi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk emak dan bapaknya yang sudah renta. Selain itu, ada satu lagi rumah yang dia bangun di Kota Semarang.
Untuk ke mana-mana, Cak To memiliki dua sepeda motor Honda Supra Fit dan sebuah mobil Honda CR-V kinclong keluaran 2004.

Tidak mudah menemui seorang bos pengemis. Ketika menemui wartawan harian ini di tempat yang sudah dijanjikan, Cak To datang menggunakan mobil Honda CR-V-nya yang berwarna biru metalik. Meski punya mobil yang kinclong, penampilan Cak To memang tidak terlihat seperti ”orang mampu”. Badannya kurus, kulitnya hitam, dengan rambut berombak dan terkesan awut-awutan. Dari gaya bicara, orang juga akan menebak bahwa pria kelahiran 1960 itu tak mengenyam pendidikan cukup. Cak To memang tak pernah menamatkan sekolah dasar.

Dengan bahasa Madura yang sesekali dicampur bahasa Indonesia, pria beranak dua itu mengaku sadar bahwa profesinya akan selalu dicibir orang. Namun, pria asal Bangkalan tersebut tidak peduli. ”Yang penting halal,” ujarnya mantap. Cak To bercerita, hampir seluruh hidupnya dia jalani sebagai pengemis. Sulung di antara empat bersaudara itu menjalani dunia tersebut sejak sebelum usia sepuluh tahun.

Cak To Mengemis Sejak Kecil

Menurut dia, tidak lama setelah peristiwa pemberontakan G-30-S/PKI. Maklum, emak dan bapaknya dulu pengemis di Bangkalan. ”Dulu awalnya saya diajak Emak untuk meminta-minta di perempatan,” ungkapnya. Karena mengemis di Bangkalan kurang ”menjanjikan”, awal 1970-an, Cak To diajak orang tua pindah ke Surabaya. Adik-adiknya tidak ikut, dititipkan di rumah nenek di sebuah desa di sekitar Bangkalan.

Tempat tinggal mereka yang pertama adalah di emprean sebuah toko di kawasan Jembatan Merah. Bertahun-tahun lamanya mereka menjadi pengemis di Surabaya. Ketika remaja, ”bakat” Cak To untuk menjadi bos pengemis mulai terlihat. Waktu itu, uang yang mereka dapatkan dari meminta-minta sering dirampas preman. Bapak Cak To mulai sakit-sakitan, tak kuasa membela keluarga. Sebagai anak tertua, Cak To-lah yang melawan. ”Saya sering berkelahi untuk mempertahankan uang,” ungkapnya bangga.

Meski berperawakan kurus dan hanya bertinggi badan 155 cm, Cak To berani melawan siapa pun. Dia bahkan tak segan menyerang musuhnya menggunakan pisau jika uangnya dirampas.

Karena keberaniannya itulah, pria berambut ikal tersebut lantas disegani di kalangan pengemis. ”Wis tak nampek. Mon la nyalla sebet (Kalau dia bikin gara-gara, langsung saya sabet, Red),” tegasnya. Selain harus menghadapi preman, pengalaman tidak menyenangkan terjadi ketika dia atau keluarga lain terkena razia petugas Satpol PP.

”Kami berpencar kalau mengemis,” jelasnya. Kalau ada keluarga yang terkena razia, mau tidak mau mereka harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu untuk membebaskan.

Cak To pengemis yang mau belajar.

Bertahun-tahun mengemis, berbagai ”ilmu” dia dapatkan untuk terus meningkatkan penghasilan. Mulai cara berdandan, cara berbicara, cara menghadapi aparat, dan sebagainya. Makin lama, Cak To menjadi makin senior, hingga menjadi mentor bagi pengemis yang lain. Penghasilannya pun terus meningkat. Pada pertengahan 1990, penghasilan Cak To sudah mencapai Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per hari. ”Pokoknya sudah enak,” katanya.
Dengan penghasilan yang terus meningkat, Cak To mampu membeli sebuah rumah sederhana di kampungnya. Saat pulang kampung, dia sering membelikan oleh-oleh cukup mewah. ”Saya pernah beli oleh-oleh sebuah tape recorder dan TV 14 inci,” kenangnya.

Saat itulah, Cak To mulai meniti langkah menjadi seorang bos pengemis. Dia mulai mengumpulkan anak buah. Cerita tentang ”keberhasilan” Cak To menyebar cepat di kampungnya. Empat teman seumuran mengikutinya ke Surabaya. ”Kasihan, panen mereka gagal. Ya sudah, saya ajak saja,” ujarnya enteng.

Sebelum ke Surabaya, Cak To mengajari mereka cara menjadi pengemis yang baik. Pelajaran itu terus dia lanjutkan ketika mereka tinggal di rumah kontrakan di kawasan Surabaya Barat. ”Kali pertama, teman-teman mengaku malu. Tapi, saya meyakinkan bahwa dengan pekerjaan ini, mereka bisa membantu saudara di kampung,” tegasnya.

Karena sudah mengemis sebagai kelompok, mereka pun bagi-bagi wilayah kerja. Ada yang ke perumahan di kawasan Surabaya Selatan, ada yang ke Surabaya Timur. Agar tidak mencolok, ketika berangkat, mereka berpakaian rapi. Ketika sampai di ”pos khusus”, Cak To dan empat rekannya itu lantas mengganti penampilan. Tampil compang-camping untuk menarik iba dan uang recehan. Hanya setahun mengemis, kehidupan empat rekan tersebut menunjukkan perbaikan. Mereka tak lagi menumpang di rumah Cak To. Sudah punya kontrakan sendiri-sendiri. Pada 1996 itu pula, pada usia ke-36, Cak To mengakhiri masa lajang. Dia menyunting seorang gadis di kampungnya. Sejak menikah, kehidupan Cak To terus menunjukkan peningkatan.

Bos Pengemis

Setiap tahun, jumlah anak buah Cak To terus bertambah. Semakin banyak anak buah, semakin banyak pula setoran yang mereka berikan kepada Cak To. Makanya, sejak 2000, dia sudah tidak mengemis setiap hari. Sebenarnya, Cak To tak mau mengungkapkan jumlah setoran yang dia dapatkan setiap hari. Setelah didesak, dia akhirnya mau buka mulut. Yaitu, Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per hari, yang berarti Rp 6 juta hingga Rp 9 juta per bulan. Menurut Cak To, dia tidak memasang target untuk anak buahnya. Dia hanya minta setoran sukarela. Ada yang setor setiap hari, seminggu sekali, atau sebulan sekali. ”Ya alhamdulillah, anak buah saya masih loyal kepada saya,” ucapnya.

Dari penghasilannya itu, Cak To bahkan mampu memberikan sebagian nafkah kepada masjid dan musala di mana dia singgah. Dia juga tercatat sebagai donatur tetap di sebuah masjid di Gresik. ”Amal itu kan ibadah. Mumpung kita masih hidup, banyaklah beramal,” katanya. Sekarang, dengan hidup yang sudah tergolong enak itu, Cak To mengaku tinggal mengejar satu hal saja. ”Saya ingin naik haji,” ungkapnya. Bila segalanya lancar, Cak To akan mewujudkan itu pada 2010 nanti.

Walaupun profesinya dicibir sebagian besar orang, termasuk saya sendiri, tapi Cak To tetap lebih baik dari pada pencuri uang rakyat bernama koruptor.

Sumber : http://biografi.rumus.web.id/2011/07/biografi-cak-to-pengemis-kaya-di.html

05 Oktober 2011

Infrared Photography pada Kamera Digital

Kategori: Kamera Digital

Normalnya sewaktu kita buat foto, kita mengharapkan hasil yang tajam dengan warna-warna yang sesuai dengan aslinya atau natural. Bagaimana bila kita ingin mencoba melewati batas-batas normal? Ingin hasil foto dengan warna-warna yang lain dari yang lain? Cobalah Infrared Photography...

Itulah kalimat yang sempat saya baca pada suatu artikel. Sangat menarik. Setelah mencoba baca-baca dan menelusuri beberapa link di internet, saya mencoba berkreasi membuat foto-foto infrared dengan menggunakan kamera digital, yang menurut saya cukup mudah.


Filter Infrared

Berbeda dengan kamera film yang menggunakan film IR, untuk membuat foto-foto infrared pada kamera digital dibutuhkan filter Hoya Infrared R72.

Dari salah satu artikel di internet yang saya baca, filter ini cocok digunakan pada kamera digital untuk menghasilkan foto-foto infrared. Sebenarnya masih ada beberapa jenis filter infrared lainnya yang juga dapat dipakai, namun hanya filter Hoya R72 ini yang dapat saya temukan di toko kamera di Jakarta.


Test Kamera Digital Anda

Sebelum anda beli filter infrared, sebaiknya anda test dulu kamera digital anda. Menurut artikel tersebut, ada beberapa kamera digital yang tidak dapat meng-capture/tidak sensitive terhadap cahaya IR. Testnya juga sangat mudah yaitu dgn menggunakan remote control untuk TV, AC, atau peralatan Audio Video lainnya.

Seperti yang sudah kita ketahui, remote control menggunakan cahaya infrared untuk menyampaikan perintah ke suatu device. Hadapkan aja remote control ke depan lensa kamera digital anda, lalu tekan salah satu tombolnya. Pada kamera digital consumer atau prosumer, kita bisa lihat langsung pada layar LCD. Kalau menggunakan DSLR, kita mesti capture/shot terlebih dahulu, baru lihat hasilnya pada layar LCD.

Jika pada hasilnya terlihat cahaya terang yg berasal dari remote control, itu berarti kamera anda dapat menggunakan filter infrared tersebut untuk dapat menghasilkan foto-foto infrared. Tetapi kalau terlihat hanya cahaya yang lemah atau tidak terlihat cahaya sama sekali, kamera digital anda tidak lulus test ini, dan tidak dapat digunakan untuk membuat foto-foto infrared.

Hasil test yang dilakukan pada kamera digital saya (Canon G3) dapat dilihat dibawah ini.




Tehnis Foto

Saya akan coba sharing seting kamera digital saya dalam menghasilkan foto2 infrared menggunakan filter Hoya R72 berikut ini:

1. Selalu gunakan tripod. Filter infrared akan sangat mengurangi cahaya dan pemotretan biasanya selalu menggunakan kecepatan lambat;
2. Biasanya saya mengatur komposisi terlebih dahulu sebelum memasang filter infrared pada lensa. Filter infrared yang berwarna merah pekat ini akan sangat menyulitkan melakukan komposisi jika sudah terpasang;
3. Kamera digital juga akan kesulitan dalam melakukan auto focus. Saya selalu menggunakan manual focus dengan mengatur focus ke infinity;
4. Setelah melakukan beberapa uji coba, seting eksposur yang pas (IMHO) pada kamera digital saya adalah dengan menggunakan shutter speed priority pada kecepatan 4 detik. Seting eksposur ini sangat tergantung pada sensitivitas kamera pada cahaya infrared. Silahkan lakukan uji coba sendiri untuk mendapatkan seting eksposur yang tepat pada kamera digital anda;
5. Menggunakan seting ISO yang terendah (ISO 50 pada Canon G3). Hal ini untuk mengurangi noise yang muncul karena pemotretan pada kecepatan lambat;
6. Pemotretan infrared ini selalu saya lakukan dalam mode warna. Hal ini akan memberikan kebebasan pada saya untuk merubah warna hasil foto lebih lanjut ataupun merubahnya ke BW dengan menggunakan PS;
7. Saya selalu menggunakan jenis file RAW (uncompressed data). File jenis ini akan menghasilkan kualitas foto yang terbaik.
8. Ingat, setiap jenis kamera digital punya sensitivitas pada cahaya infrared yang berbeda-beda. Jadi seting di atas juga kemungkinan berbeda pada setiap jenis kamera digital.


Hasil Foto

Hasil foto infrared dengan seting di atas akan nampak seperti dibawah ini:



Foto di atas dihasilkan menggunakan Canon G3, dengan menggunakan kamera digital jenis lain mungkin akan terlihat berbeda. Terlihat hasil foto agak kemerah-merahan cenderung ke ungu, daun, rumput dan tumbuh-tumbuhan berwarna terang, dan langit menjadi gelap dgn awan yang agak terang. Pertama kali melihat hasilnya di kamera digital, saya sampai takjub sendiri. Seperti melihat dunia lain.


Digital Darkroom

Keuntungan lain menggunakan kamera digital adalah kita dapat melakukan koreksi warna di computer dengan menggunakan program Photoshop (PS). Misalnya dengan mengubahnya menjadi BW. Salah seorang rekan di FN ada yang menyarankan untuk mengambil channel red saja, sehingga akan menghasilkan BW yang bagus.

Setelah mencoba berbagai koreksi warna dengan PS, saya menemukan satu trik mudah untuk merubah hasil foto infrared menjadi warna-warna yang dramatis. Saya suka sekali dengan warna yang dihasilkan, yang menurut saya (IMHO lagi) jadi hampir mirip dengan foto-foto infrared yang dihasilkan oleh film IR. Yaitu dengan mengaplikasikan Auto Level dan USM pada setiap channel (Red, Green, Blue). Maka warna akan otomatis berubah menjadi warna-warna surealis. Dan hasilnya jadi tambah dramatis.

Setelah diaplikasikan AutoLevel dan USM pada setiap channel, foto infrared di atas akan menjadi seperti dibawah ini:



Silahkan mencoba sendiri koreksi warna ini. Tidak ada warna yang pasti dalam infrared photography. Semua tergantung pada hasil foto dan diri anda. Kreatifitas adalah kuncinya.

Untuk melihat foto-foto infrared yang sudah saya upload ke FN, silahkan lihat pada gallery Surreal Images disini.


Penutup

Mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan dan sangat sederhananya artikel ini. Saya hanya ingin berbagi pengalaman kepada teman-teman di FN. Sayapun masih harus banyak belajar di infrared photography ini. Mohon koreksi dan petunjuk teman-teman semua.

Mudah-mudahan artikel ini dapat memberikan nuansa lain atau variasi lain di FN terlepas dari pro kontra digital darkroom. Karena bagaimanapun juga peraturan-peraturan dasar photography seperti komposisi, pemilihan obyek, dan pemilihan eksposur yang tepat, tetap menjadi suatu hal yang mutlak untuk menghasilkan foto-foto infrared yang berkualitas.

Sumber:
Fotografer.Net (http://www.fotografer.net/isi/artikel/lihat.php?id=77)


Referensi:

- Infrared Basics for Digital Photographers
- Infrared Photos
- Kleptography